[Fiksi] 1/52 - Januari

10:34 PM Iffa Karina 4 Comments

[Fiksi ini termasuk dalam #52StoriesProject yang dicetuskan Asha D.]

Summary :
Seorang penulis asal London, Anna Evans, yang usai menikmati liburannya di London, kini kembali pulang ke Bekasi, Indonesia, tempat ia merangkai kalimat-kalimat indahnya, sekaligus menemukan cintanya. Usahanya menikmati liburan di London selama setengah tahun nampaknya sia-sia. Karena, kini pria itu kembali mengisi hidupnya, membuat perutnya terisi dengan kupu-kupu berterbangan, membuat jantungnya berdebar dua kali lipat dan membuat Anna kembali jatuh cinta.

Hujan di Januari. | Sumber
"Januari"
A Fiction by Iffa Karina Permatasari

Seorang gadis tengah duduk di sebuah cafe di Bandara Internasional Soekarno-Hatta. Dinginnya malam itu membuatnya ingin menyeruput secangkir cafe latte hangat favoritnya. Ia sesekali menyesap kopinya itu, pandangan matanya sepenuhnya ia fokuskan pada tabletnya. Foto-foto itu terus bergulir seiring jarinya menyentuh dan menggeser lembut layar gadget tersebut.

Setiap foto yang berlalu menunjukkan foto seorang pria. Pria yang sama.

“Anna!” Suara seorang wanita terdengar, memanggil gadis yang bernama Anna itu. Secepat kilat ia menyudahi kegiatan melihat gallery fotonya dan kembali meneguk sedikit minumannya.

“Hey, Rena. Long time no see. I miss you so much.” Anna pun memeluk wanita itu, Rena, kemudian mencium pipinya seperti yang para wanita lakukan ketika bertemu.

I know you are.” Rena melepas gelak tawanya pelan. “Udah lama nunggu?” Ia pun duduk di hadapan Anna.

Not really. How come kamu gak ngirim email padaku sama sekali? Atau bahkan mengirim foto terbarumu? Dan kamu bahkan gak update social mediamu sama sekali.” Mulai lah muncul sifat Anna yang cerewet.

Calm down, girl. Belakangan ini aku sibuk sama proyek baru. Dan hey, I see what you did there back then.” Ucap Rena kemudian tersenyum jail. Anna yang tak mengerti hanya mengerutkan keningnya, mengambil cangkir kopinya dan tentu saja meminumnya.

“Setelah liburan di kampung halamanmu selama setengah tahun, kamu masih belum bisa melupakan Ray?”

Nampaknya telinga Anna sedikit sensitif dengan nama tersebut. Ia langsung tersedak dan mendelikkan matanya ke arah teman se-apartemennya itu. “Ternyata aku benar.” Lanjut Rena, membuat Anna memutar bola matanya yang berwarna abu-abu.

“Pulang saja yuk. Badanku sedikit lelah, kau tau kan berapa jam aku duduk di tempat yang sama?”

“Baiklah, baiklah. Tapi siap-siap saja duduk kembali berjam-jam, jalanan cukup padat kau tau?”

Tidak menjawab, Anna justru meneguk cafe lattenya hingga habis, kemudian berdiri dan menarik kopernya.

****

~Bekasi, 3 Januari 2014. Apartemen Anna dan Rena. 07:05 WIB.~

“Bagaimana tahun barumu disana? Menyenangkan?” Tanya Rena sambil mengutak-atik remot tv, mencari acara yang bagus di pagi hari.

“Seperti biasa aku hanya menonton kembang api di London Eye. Tak lebih. Tapi kau tau? Adikku sudah mempunyai pacar dan ia pergi menikmati malam tahun barunya ‘berdua’.” Jawab Anna santai namun ia menekankan kata ‘berdua’. Ia pun melanjutkan kegiatannya mengaduk-ngaduk nasi goreng yang sedang dimasaknya di penggorengan dengan spatula. Anna memang jago memasak. Makanya, sepulangnya dari London, Rena langsung memintanya untuk memasak sarapan kedua gadis single ini. Yah, walaupun hanya dua piring nasi goreng dan telur dadar.

Bon apetit!” Ucap Rena senang, sebelum melahap nasi gorengnya dengan cukup –ganas. “Hey, kau seperti belum makan selama berbulan-bulan.” Ujar Anna, yang menyuap hidangannya dengan santai.

“Selama enam bulan aku memang belum makan masakanmu yang selalu menggugah selera.”

Kali ini Anna tersenyum simpul dan memberikan sahabatnya waktu untuk menikmati masakannya. Jujur, ia juga merindukan nafsu makan Rena yang –benar-benar– tinggi. Setelah sekian lama ia berada di London. Tapi apa ia masih merindukan editornya yang tampan?

“Ray.” Sebuah nama terselip dari mulut Anna. Sejujurnya ia tak mau membaca, mengucapkan atau bahkan melihat jejeran tiga huruf itu. Namun deringan ponselnya memaksanya untuk menggamit benda itu dan melihat pesan yang baru masuk, yang ternyata berasal dari laki-laki yang ia cintai dan tak bisa ia lupakan.

Dari : Ray
Jum’at, 3 Januari 2014 | 07.45 WIB
Hey. Kudengar kau sudah pulang ke Bekasi. Want to have some coffee tonight?
Aku tunggu di Kedai Kopi jam 7. Aku tidak akan pulang sampai kau datang ;)

Dengan cepat Anna membaca pesan singkat itu. Dan ia langsung melirik Rena dengan tajam. “Kau memberitahu Ray kalau aku sudah kembali?”

“Apa? Mana mungkin aku melakukan itu.”

Anna menghembuskan napasnya sedikit berat, “baiklah, aku percaya kamu.”

“Ada apa? Dia ingin bertemu denganmu?” Sebagai jawaban Anna meletakkan ponselnya di atas meja, kemudian berjalan cepat menuju kamarnya.

Ray, Ray dan Ray. Pria berumur 27 tahun itu berhasil merusak awal tahun Anna, yang lebih muda satu tahun darinya. Kini Anna tengah membuka laptopnya, mengetik segala curahan hatinya, juga melihat ratusan memori yang ditangkap oleh kamera kesayangan Ray.

Kenangan itu mulai mengalir di otak Anna, berputar dan berputar seperti film, begitu jelas, tidak seperti film-film jaman dulu yang bersemut dan hitam putih.

Pertemuannya pertama kali dengan Ray di Kedai Kopi, cafe favoritnya. Menikmati hujan, sekaligus terjebak, di kantor penerbitan Ray. Ulang tahun ke dua puluh enamnya yang begitu manis dan mengejutkan. Bermain di Dufan seperti anak kecil yang begitu polos.

Memori menguak dengan mudahnya, membuat air mata Anna sedikit meleleh dari pelupuk matanya. Wanita itu masih mencintai Ray. Pria yang sudah dijodohkan dengan wanita lain oleh orang tuanya. Membuat Anna ingin sekali menjadi anak tunggal dari orang tua wanita lain itu.

Perjalanannya kembali ke London adalah dampak dari malam dimana Anna mengetahui segalanya tentang perjodohan Ray. Dan setengah tahun di London tak merubah perasaannya, begitu juga dengan kepedihan yang ia rasakan. ‘Apa Ray sudah menikah?’ Satu pertanyaan yang kini mengawang-awang di pikiran Anna, membuatnya perasaannya campur aduk. Antara penasaran, dan takut tersakiti, lagi.

*****

~Kedai Kopi. 3 Januari 2014. 19:54 WIB~

Seorang wanita berambut kecoklatan dan bermanik biru muda itu terlihat sedang memarkirkan mobilnya dengan tergesa-gesa. Setelah batinnya bergejolak, ia memutuskan untuk bertemu dengan Ray. Dan ia sudah terlambat, hampir satu jam. Anna tahu persis, Ray tidak suka menunggu, namun ia bersedia menunggu Anna merampungkan tulisannya, walaupun terlambat semalaman. Apa hal serupa ia terapkan di awal tahun ini?

Anna berjalan perlahan, mengintip ke dalam cafe. Dengan mudah ia menemukan seorang pria berperawakan tinggi, dengan rambut sedikit ikal, hidung mancung, kulit putih dan... tampan. Sedikit ragu, Anna melangkahkan kakinya ke dalam cafe. Satu langkah. Dua langkah. Tiga langkah. Rasanya hati kecil Anna bertengkar dengan otaknya. Yang satu ingin segera pulang dan melupakan pria itu, dan satunya lagi ingin menyapa pria itu, tidak ingin mengecewakannya.

Anna bertekad untuk memutar high heelsnya, dan kembali pulang. Tapi tidak ketika Ray menyadari kehadirannya, dan memanggil namanya dengan cukup keras, “Anna!” Dan Anna sudah terlambat, terperangkap oleh senyuman Ray yang menghangatkan jiwanya.

“Lama tak melihatmu.” Ray angkat bicara. Entah kenapa atmosfer Kedai Kopi malam ini terasa berat, setidaknya untuk seorang Anna Evans.

“Y-ya. Lama tak melihatmu, juga.” Anna membalasnya dengan sedikit gugup. Namun kemudian rasa gugupnya mulai hilang, tertutupi oleh kecerewetannya.

“Hey, kau masih menyimpan syal itu?” Tanya Ray, melirik syal yang Anna kenakan malam ini.

“Aku tidak menemukan syalku di lemari. Jadi kupakai ini saja. Dan, walaupun kau yang memberikannya padaku, kau masih tetap salah mengucapkannya. Ini selendang, bukan syal.” Jelas Anna panjang lebar, kemudian meminum cafe latte yang sudah ia pesan sebelum duduk bersama Ray. Dan ia tidak berbohong. Syal yang ia kenakan saat kembali ke Indonesia basah termakan hujan.

Ray membalasnya dengan senyumnya yang khas, “kau masih sama.” Kalimat singkat dari Ray membuat wanita di hadapannya menaikkan satu alisnya. “Cerewet.”

“Hey, jangan salahkan sifat turunan ini!” Anna memanyunkan bibir mungilnya, membuat Ray melepas gelak tawanya.

Mereka tidak banyak mengobrol. Walaupun kedua insan itu baru kembali ke rumah masing-masing sekitar jam sembilan lewat. Jangan salahkan awan yang sedang mendung dan menghiasi Bekasi malam itu dengan butiran airnya.

Anna menyetir mobilnya kembali ke apartemen. Malam yang begitu... mengesankan. Tak disangka dalam 24 jam ia menapakkan kakinya kembali di Indonesia, ia langsung bertemu dengan alasan kenapa ia pergi dari Indonesia. Ironis bukan? Tapi wanita itu menikmati malamnya bersama Ray. Entahlah, sepertinya Anna sudah melupakan sakit hatinya. Karena, saat mengucapkan salam perpisahannya beberapa menit yang lalu, ia mengundang Ray untuk datang ke apartemennya.

*****

~Apartemen Anna dan Rena. 4 Januari 2014. 17:04 WIB~

Anna beruntung karena Rena sedang tidak ada di rumah. Sejak kemarin ia melembur di kantornya, yang diprediksikan akan menjadi ‘seminggu di kantor bersama Rena dan lembaran desain baju baru’. Sementara Anna tampak sibuk di dapurnya, memasak cemilan kesukaannya dan Ray. Banyak hal yang sama dari dua manusia ini. Dan itu yang membuat Anna cepat merasa cocok dengan Ray.

Pisang goreng yang hangat bersantai di atas piring, menunggu seseorang atau dua orang untuk melahapnya dengan penuh senang.

*TING NONG*

Bel apartemen Anna berbunyi. Ia melirik pintu kemudian berlari ke arahnya. Mata birunya mengintip melalui kaca kecil di bagian atas tengah pintu, menangkap sesosok pria yang berdiri di depan pintu.

“Kau datang di saat yang tepat.” Ucap Anna melirik ke arah meja kopinya, lebih tepatnya ke arah sepiring penuh pisang goreng.

“Untukmu.” Ray menyodorkan setangkai mawar putih yang terbalut plastik bening. Terlihat masih segar. Dan rona merah nampak di permukaan pipi Anna.

“T-terimakasih.” Anna pun mempersilahkan pria itu masuk ke dalam apartemennya. Tanpa dipersilahkan, Ray langsung membanting tubuhnya di sofa yang empuk. Kemudian tangannya hendak mengambil sepotong pisang, tepat sebelum Anna menceramahinya, “kau juga masih sama. Jorok. Cucilah tanganmu dulu. Atau gunakan tisu. Dan aku bahkan sudah meletakkan garpu kecil di samping piring, kurasa.” Terlihat ia nyerocos dari kamarnya. Setelah meletakkan mawar putih itu di meja kerjanya, Anna kembali ke ruang tamu, dan duduk di samping Ray.

Anna mengambil sebuah pisang goreng dengan garpu, melahapnya, dan bertanya pada Ray, “jadi, apa proyek kita selanjutnya, bos?”

“Jangan berbicara sambil makan. Dan, bukannya seharusnya aku yang bertanya seperti itu?” Ray balik bertanya, kemudian ikut melahap pisang goreng bagiannya.

Sesuai saran Ray, Anna menelan pisangnya yang sudah melumat dan kembali berbicara, “tidak tahu. Selama di London aku menjadi tidak produktif. Kau tahu klienmu ini terlalu suka bersenang-senang dengan siapa pun. Walaupun aku sempat menulis sedikit draf.”

“Uhuh, mau menceritakannya sedikit?”

“Apa? Kegiatanku di London?”

“Bukan. Drafmu.”

“Sejujurnya aku masih agak ragu, jadi lebih baik tidak usah diceritakan sekarang.” Raut wajah Anna nampak santai, namun Ray tahu persis bahwa ekspresi tersebut sedang dibuat-buat. Tapi ia tak suka memaksa wanita ini untuk menceritakannya sekarang.

Obrolan ringan terus berlanjut. Sedikit tawa menyelip diantara suara ceria Anna dan suara berat yang sudah jelas milik Ray. Keduanya nampak menikmati senja di hari Sabtu itu. Sampai ponsel Ray berdering, dan Ray mengerutkan keningnya seketika membaca pesan singkat yang baru masuk itu.

“Ada apa?”

“Kurasa aku harus pergi. Ada urusan dengan Naomi.” Anna sedikit tersentak mendengar nama itu. Yap, Naomi adalah calon jodoh Ray. Ingat loh, baru calon.

Dan Anna dapat mengendalikan dirinya dari rasa cemburu. Lagipula, siapa dia berhak untuk mencemburui seorang Naomi yang memang sudah dijodohkan dengan Ray? Kini rasa penasaran yang menyelubungi dirinya. “Kalian sudah menikah?” Matanya tak sanggup ia tatapkan pada sosok Ray. Anna terlalu takut menunggu jawaban dari Ray, rasanya seperti menunggu keputusan terbit atau tidaknya buku pertamanya.

“Menikah? Tentu saja belum.” Dan hati Anna berlangsung lega.

“Tentu saja? Memangnya kau tidak mau menikah?”

“Mmm. Masih ada hal yang harus diurus. Kalau begitu, aku pergi dulu ya. Terimakasih atas pisang gorengnya, bawel.” Dan Ray meninggalkan Anna di ruang tamu apartemennya, terpaku sekaligus penasaran.

Pertama, sudah lama ia tak mendengar kata ‘bawel’. Kata yang cukup asing sekitar dua tahun yang lalu. Panggilan kesayangan dari Ray.

Kedua, ia sedikit lega karena Ray belum menikah dengan Naomi. Tapi kata-kata ‘ada hal yang harus diurus’ membuat perut Anna sedikit mulas.

Anna segera mencuci piring yang tadi ia gunakan untuk menadahkan teman mengobrolnya dengan Ray. Kemudian ia menghempaskan tubuhnya di kasurnya yang empuk, setelah sebelumnya mengambil sepucuk mawar putih, pemberian Ray.

Ray, apa maksud mawar ini? Mawar putih itu... persahabatan atau cinta yang abadi?’ Batin Anna.

Tak terasa bulir-bulir air jatuh membasahi pipi mulusnya. Diikuti tetes air hujan, membuat jendela kamarnya berembun.

Kini Anna melirik kalender kecilnya, yang terletak di atas meja kecil di samping tempat tidurnya. Januari. Sebenarnya Januari adalah bulan favoritnya. Bulan ini dua tahun yang lalu, ia bertemu dengan seorang pria tampan yang sedikit kutu buku. Siapa lagi kalau bukan Ray? Dan di akhir Januari adalah ulang tahunnya.
Namun sekarang, rasanya Anna ingin cepat-cepat menyelesaikan Januari. Awalnya saja sudah terasa pedih, bagaimana selanjutnya? Bahkan ia ingin melewatkan tanggal 32 Januari, tanggal khayalan yang ia buat bersama Ray akibat terlalu cinta pada bulan Januari. Tapi tanggal itu hanya khayalan bukan? Dan semua ini hanya mimpi bukan?

Hati Anna kembali kacau. Ia menarik selimutnya, memeluk gulingnya yang besar, dan terlelap tidur. Sebelumnya ia menggumam kecil.

“Ray, kuharap kau adalah yang pertama dan yang terakhir... untukku.”

[TAMAT?]

Author’s Note :
Kyaah! Akhirnya jadi juga. Aku masih belum tau ini one-shot atau akan menjadi multichap. Hehe, tunggu minggu depan yah. Kalau tokohnya baru, berarti fic ini hanya akan menjadi one-shot. Kalau masih bertemu dengan Anna dan Ray ya berarti bakal jadi multichap. Atau ada  yang punya ide ini bagusnya jadi apa? Silahkan berikan komentar/review ya! Hehehe :)

Terimakasih :D

You Might Also Like

4 comments:

  1. halo Iffa! :D seneng banget kamu bisa ikut projek ini juga. semoga bisa berjalan dengan sukses ya! amiiin. aku suka banget di cerita ini ada kata-kata yang ada di tabelnya tanpa terkesan maksa <3 salut deh buat kamu.

    oh ya, koreksi dikit aja ya. cafe itu yang bener kafe. terus pas tokohnya ngobrol sebaiknya jangan dicampur2. high heels = sepatu berhak tinggi.

    kalo ini multichap, aku mau banget baca kelanjutannya ^3^b

    oh ya, kalo kamu mau, kita saling follow yuk? jadi saling tahu perkembangan masing2 dan bisa saling menyemangati. aku udah follow kamu kok. terus semangat menulis ya ^o^

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin :) Terimakasih banyak Ashaaa :D

      Terimakasih juga sarannya. Itu yang awal-awal ya? Habisnya aku mau memberikan kesan kalau Anna baru pulang dari London, makanya ngomongnya campur-campur english ehehe. Mungkin kurang nyaman ya dibaca?

      Aku sudah follow balik ya :D Keep writing!

      Delete
  2. Keren banget cerpennya *_*

    Bakal ada lanjutannya lagi gak? Hehe :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terimakasih :D Semoga jadi multichap ya hihihi

      Delete

Coretan atau catatan kecil dari kamu akan sangat berarti buat penulis. Terimakasih :)