Day 7 : Jika

7:59 PM Iffa Karina 4 Comments

Assalamu'alaikum~

Aduh, udah molor berapa hari ini ya? Padahal sabtu minggu kemaren aku ada di rumah aja hohoho.

Baiklah baiklah, ini hasil voting per 25 November 2013 pukul 04.13 WIB. (Sekarang tanggal berapa fa? Baiklah, aku capture ini di tanggal segitu, cuma belum sempet ke pos huehehe)
Yang ngevote dikit hiks...
Cinderella! Kyaa!

Andai aku jadi Cinderella. Aku akan berbuat apa?

Eh, pasti kalian tau cinderella kan? Itu looh sepatu kaca! Tau kan?
Penampakkan mbak Cindy
Ehm.

(Andai...) Iffa lahir di keluarga bahagia. Ia disayang oleh ibu ayahnya. Namun suatu ketika, ibu Iffa sakit keras. (Aduuh nauzubillahimindzalik ><)

Part ini gak enak banget, skip aja deh.

Suatu ketika (lagi), seorang bodyguard dari perusahaan ternama datang ke rumahku. Ia menyampaikan kabar bahwa kami sekeluarga diundang ke pesta ulang tahun anak direktur besok malam. Betapa senangnya aku! Namun kedua kakak tiriku serta ibu tiriku malah memberikanku banyak pekerjaan, menghancurkan puing puing kebahagiaan yang telah diberikan pangeran, anak direktur, melalui bodyguardnya.


Kedua kakak tiriku malah bertengkar mengenai siapa yang akan dipilih pangeran. Dipilih? Pangeran sedang mencari calon istri, yang tentunya akan menjadi pendamping hidupnya saat ia sudah menjadi direktur nanti. Sejujurnya, aku tidak menginginkan harta dan kekayaan. Aku hanya ingin keluar dari belenggu, di rumahku sendiri.

Aku hanya ingin kabur dari segala pekerjaan rumah tangga di rumahku sendiri. Aku hanya ingin kabur dari segala titahan ibu tiriku, yang tidak sama sekali bisa disebut ibu. Aku hanya ingin kabur dari caci maki kedua kakak tiriku. Aku hanya ingin pergi, mencari tempat yang nyaman.

***

Aku disuruh mungut kedele di bak cuci! Asem -_- Padahal setengah jam lagi pestanya bakal mulai! Dan kedua kakak tiriku serta ibu tiriku sudah pergi ke pesta. Semua pintu rumahku dikunci dan jendelanya pun sama. Keluarga yang jahat. Hiks...

PRANG!

Aku menengok ke arah suara pecahan kaca tersebut. Subhanallah! Ada yang mecahin kaca dapur pakek batu gede! Aku berlari ke arah jendela dan menemukan seorang ibu peri, ah bukan ibu peri, bencong peri. Itu sebutan yang lebih tepat.

"Benco- ah ibu peri?" Tanyaku lembut, walau begitu juga rasanya aku akan didamprat oleh bencong peri ini kalo aku manggil dia bencong. Tapi, bukankah jujur itu menyakitkan?

Bencong peri hanya mengenakan selembar kain -yang dipakainya dengan cara jemaat haji memakai kain ihram- dan sayap merah muda menyembul dari punggungnya yang, pria banget! Ia pun berkata, "kau ingin pergi ke pesta anak direktur kan?". Astagfirullah, kalian jangan tanya bagaimana suara si bencong peri ini.

Namun aku hanya mengangguk. "Tapi bagaimana aku bisa pergi dengan baju seperti ini?" Bajuku memang tidak layak untuk pakaian sebuah pesta.

"Tenang saja! pwiwiiit!" Si bencong peri itu bersiul kemudian datangnya dua orang gajelas membawa sarung. Sarung? You've gotta be kidding me.

Tidak, aku gak disuruh pake sarung buluk itu. Tubuhku di selubungi sarung itu seakan aku mau diculik oleh dua kucrit ini. Tapi nyatanya tidak. Setelah sarung itu diambil kembali -dua kucrit itu juga menghilang-, aku telah berpakaian super luar biasa.

"Terimakasih be- eh, ibu peri. Tapi aku harus naek apa ke pesta pangeran?"

"Tenang saja!" Lagi lagi si bencong peri menjawab seperti itu. Bedanya, ia tidak bersiul, dan dua makhluk itu tidak kembali datang. Ia mengajakku keluar rumah -ya, ia mendobrak pintu- kemudian aku ditunjukkan sebuah kendaraan yang amat sangat....

SEPEDA ONTEL! Si bencong peri itu menaikki sepeda dengan nistanya. Dan ia menepuk-nepuk boncengannya, mengajakku naek ke sepeda tua itu. Baiklah baiklah. Demi kebebasan yang selama ini kuangan-angankan.

Aku tidak berani membayangkan betapa mengerikannya naik sepeda bersama si bencong. Kita skip saja part yang ini.

Aku... aku sudah sampai di gedung yang mewah. Aku sengaja berjalan dari balik gedung, tentu saja aku tidak minta diantar -oleh bencong peri dan sepeda tuanya- sampai depan gedung. Bisa langsung diusir aku.

Aku masuk dan disuruh naik ke lantai 25. Glek. Untungnya aku sering nonton di tipi-tipi, pasti ada lift di gedung ini. Aku menaiki lift -dengan normal- dan sampai di lantai 25.

Ketika aku masuk ruangan yang besar itu, semua mata tertuju padaku. Asem, apa ada kedele nempel di mukaku? Atau bajuku yang indah ini ternyata bolong? Sepertinya tidak, karena sang anak direktur -yang juga sering muncul di tipi- datang kepadaku dan mengajakku berdansa.

KYAAA! Jiwaku berfangirling ria. Aduh apa ini. Baiklah kita skip bagian dansa yang bikin jantungku mau meledak.

Tinit tinit! Tinit tinit! Jam tangan pangeranku berbunyi. Ah sudah jam 12! Aku harus pulang, karena kata bencong peri, jam 1 pagi ada FTV gaje kesukaan bencong peri dan aku gak bisa pulang kalo gak dianter bencong peri. Err... Yasudahlah. Dadah pangeranku... Aku berlari menuju lift. Untungnya si lift langsung terbuka, dan menutup dengan cepat.

Dan ketika aku berlari ke belakang gedung, aku tersandung. Aseeeemmm asem. Sepatu kananku terlempar ke semak-semak. Tapi aku gakbisa ngambil, soalnya aku bakal ditinggal sama bencong peri. Dan ketika aku sampai di belakang gedung...

KOSONG! Sepeda butut peri gadungan itu udah gak ada lagi! Dia beneran ninggalin aku. Huweee! Jahat! Jahat! Jahatttt!

Hiks... Aku berjalan dengan terseok-seok. Tentunya tanpa sepatu kananku, yang membuat tinggiku tidak seimbang. Ah! Tadi aku kesandung deket semak-semak. Mungkin sepatuku masih ada di semak-semak. Setidaknya aku bisa pulang dengan berjalan kaki tanpa harus menjadi orang pincang.

Posis badanku duduk setengah berdiri. Mencari kilauan glitter keperakan, warna sepatu indah itu. Kenapa gak ada?

"Nyari apa?" Suara seorang pria mengagetkanku. Aku menoleh ke sampingku, ganteng pisan euyyyy :3
"E...ehm... itu... sepatuku..."
"Ketemu!"
"Eh?"
"Sini kakimu."

Dengan pelan aku mengulurkan kakiku dan cowok ganteng itu memasangkan sepatunya di kakiku. Pas. Yaiyalah ya ._.

"Makasih..."
"Gak baek cewek pergi malem-malem. Dan..." tiba tiba si pangeran membantuku berdiri. Dan ia berlutut, "will you marry me?"

"EH?"

.The End.
***

Sebenernya ini kisah drama waktu aku SMA dengan sedikit-banyak perubahan. Alay banget bukan jadinya? Hahaha. Dan endingnya absurd pisan. Kenapa gak sama pangeran eh, anak direktur aja? Kenapa harus orang lain? Wkwk. Cuma yang nonton dramaku aja yang tau XD Ampuun. Ampun.

Terus kenapa jadi cerpen? Bukannya harus "Andai aku jadi..."?

Ya, andai aku jadi Cinderella mungkin ceritanya bakal jadi absurd kayak gitu hahaha. Imajinasiku emang lagi alay cap gajelas.

Itu saja lah. Besok kuliah pagi hiks... pulang sore hiks... Sekian.

Jangan lupa vote ini yaaa! Pretty please with a cherry on top? #ea

Diriku di ....... yang akan datang
  
pollcode.com free polls 

Wassalamu'alaikum warrahmatullahi wabarakatuuh. :)

You Might Also Like

4 comments:

  1. hahha.. adaa2 ge dia mah ceritanyaa.. tapi obat ketawa sih ini :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Waduh ternyata aku bisa bikin mbak rani ketawa e hihihi :3 Padahal menurutku ini jayus banget hahaha

      Delete
  2. direkturnya punya dik cwo ga? *eh hahahahahah :p

    ReplyDelete
    Replies
    1. gak punya mbak >< Kayaknya cowok ganteng itu jatuh dari langit (?) hahaha

      Delete

Coretan atau catatan kecil dari kamu akan sangat berarti buat penulis. Terimakasih :)